Home » Polemik Hati
Sastra

Polemik Hati


POLEMIK HATI

Jemari yang lincah aktif menekan satu-demi satu tombol keyboard komputer usang itu, tatapan yang tajam melirik pada buku yang terbuka, menyalin kata demi kata ke layar monitor yang tersedia. Lirikan mata mengintai padanya, perempuan yang memiliki jemari lincah dengan keyboard komputer tua. Sebut saja Waryo, pria yang hampir tiap hari tidak pernah lupa untuk sekedar singgah atau melempar pertanyaan ke ruangan itu, tentu tidak dengan niat tersebut, melainkan hanya sekedar ingin melihat paras gadis dengan jemari lincah, Wulan. Setiap hal itu Wulan menyadari betul gelagat Waryo ke ruangannya. Tidak hanya sekedar bertanya atau singgah namun dengan tatapan tajam penuh gairah, karena segan dan takut Wulan tidak berani menegur atau menceritakan pada siapapun.

Dua bulan lalu, hari Jum’at, Wulan tidak lupa bagaimana Waryo datang dengan berpura-pura sakit pada kakinya akibat kepeleset di tangga. Mengharapkan rasa iba dan diobati Wulan, dia merintih mengerang dengan manja. Wulan paham itu semua alibi Waryo agar dia mengobati dan memegang kakinya. Sekali lagi, tak bisa menolak Wulan melakukan hal itu. Di lain waktu Waryo datang dengan membawakan dua loyang pizza ukurang sedang, khusus untuk Wulan. Dengan perasaan kurang nyaman Wulan menerimanya. Bukan apa-apa, Wulan adalah gadis remaja yang baru saja terjun ke dunia kerja. Bisa bekerja di sini merupakan hal yang sangat istimewa baginya mengingat susahnya mencari pekerjaan di luar sana. 

Yang tamat kuliah saja masih banyak yang nganggur, apalagi kamu yang hanya tamat SMA,” begitu ibunya pernah mengingatkan. Karena itu, pekerjaan ini dimanfaatkan betul dengan bertingkah dan bersikap sebaik mungkin kepada rekan kerja dan atasannya. Waryo adalah atasan Wulan, berambut ikal, berkulit coklat, dan berbadan tinggi besar. Sempat berkeluarga beberapa tahun silam, kemudian bercerai karena ketidak cocokan yang menyelimuti hubungan mereka. 

Perbedaan umur yang cukup jauh membuat Wulan tidak pernah menyadari bahwa Waryo akan menyukai dirinya, Wulan hanya menganggap Waryo tak lebih dari atasan semata. Namun Waryo berpikiran lain, posisi itu seringkali dimanfaatkannya. Agar Wulan selalu di depan mata, dengan semena-mena dia menyuruh gadis tersebut melakukan hal yang kadang tidak berhubungan dengan pekerjaanya seperti membuatkan kopi, menyapu ruangan, mengelap meja, membuang sampah, dan segala hal yang bukan tanggung jawabnya. Sekali lagi, demi karir Wulan melakukan tanpa protes. Namun seiring waktu, hal-hal tersebut makin terasa aneh, risih, bahkan menjijikan. Waryo makin menjadi-jadi, sampai suatu ketika hal itu terjadi. Waryo mencoba memberanikan diri meminang Wulan, menjadikan istri untuk ke dua kali dalam hidupnya. Wulan terdiam dan tak bisa menjawab apa yang seharusnya dijawab. Cincin permata berbalut emas telah disodorkan pas di depan meja kerja Wulan. Tanpa rasa malu yang berlebihan, membukanya dan hendak memasangkan langsung ke tangan mungil gadis itu seraya berucap, “telah lama kau ku perhatikan dek, telah lama ku menaruh hati padamu, dan sebelum dipinang orang lain, biarlah aku yang meminangmu dulu, kau tentu mau bukan?”

Mesin printer yang berbunyi sembari mengeluarkan secarcik kertas salinan dari ketikan kerja Wulan nyaris selesai keluar sepenuhnya, hanya suara itu yang sementara mampu menjawab ajakan sekaligus pertanyaaan dari Waryo. Wulan masih ragu dan kikuk, ruangan tanpa manusia itu seketika menciut, semua benda di dalamnya seolah melirik dan menunggu jawaban langsung dari bibirnya yang ranum.

Bukannya aku menolak pak, tapi aku masih kecil, belum siap untuk menjadi istrimu,” dengan kata yang paling halus yang dipahami coba dilontarkan. “Tak apa dek, justru dengan umur segitu, akan membuatku semakin sabar dalam membangun rumah tangga, tak seperti istriku yang dulu,” Waryo tak bergeming. “Menikahlah dengan ku,” sekali lagi ajakan itu semakin menguat.

Seketika telepon dalam ruangan itu berdering. Wulan segera mengangkatnya, panggilan dari rekan kerja membuatnya sedikit lega dari tekanan Waryo. Tiba-tiba ada yang memasuki ruangan tersebut, Waryo bergegas kembali ke ruangannya dan menutup cincin yang telah dibuka. Hari itu Wulan merasa terselamatkan berkat dua hal, telepon berdering dan kedatangan tamu kantor yang harus dilayani Waryo. Ketika jam kerja berakhir Wulan bergegas pulang duluan tanpa berpamitan ke siapapun. Dan belakangan momen-momen dan kejadian-kejadian seperti itu sering terjadi, dan beribu alasan telah dicari Wulan untuk membatalkan niat Waryo. Namun bukan Waryo namaya kalau mudah patah arang, terus dicoba dan dilakukan dengan banyak cara dan kesempatan.

Sore itu saat pulang kerja, Wulan bergegas menuju tempat motornya diparkirkan. Seketika dia kaget dengan adanya bingkisan se plastik besar bertuliskan nama brand salah satu produk makanan cepat saji kota ini. Berisi dua box besar ayam goreng plus bumbu dan sambal khasnya. Dari suhu bingkisan ini terasa baru diletakkan di motornya, masih hangat. Wulan sempat berpikir jangan-jangan yang punya tukang parkir, namun setelah ditanyai penjaga parkir tidak tau soal itu. Di sekitar tidak ada siapa-siapa, dengan ragu Wulan tetap membawa bingkisan tersebut pulang.

“Itu dari abang dek, makanlah sebelum kamu kenyang,” cukup puitis pesan Whatsapp dari Waryo ketika Wulan sampai di rumah. Tak ada pilihan, Wulan hanya mengucapkan terima kasih dengan ragu. Kejutan-kejutan seperti itu makin hari makin sering terjadi, terutama di tempat kerja. Bunga, buku, kutipan puisi, potongan cerpen, screencapture quote media sosial berserakan di meja kerja dan layar hape Wulan. Gadis polos itu tidak enak hati, dan memilih diam sebagai responnya.

Sebenarnya Wulan tidaklah lajang, dia merajut kasih dengan teman sekolahnya dulu, Wawan. Pria terbaik yang dia kenal sejak kelas dua SMA. Meskipun jarak mereka cukup jauh sekarang, namun hubungan mereka tetap hangat seperti masa-masa perkenalan dulu. Tamat SMA Wawan melanjutkan kuliah di salah satu universitas terbaik di kota lain. Sejak itu Wawan jarang pulang, namun bukan berarti mereka lost contact begitu saja. Nyaris setiap malam perpaduan suara mereka menggema ke sisi-sisi kamar Wulan, baik berupa voice maupun video call. Sesekali gadis lembut ini cekikikan dengan joke-joke garing yang disampaikan Wawan. Namun membahas soal Waryo kepada Wawan belum dilakukan Wulan, karena Wawan cukup protektif soal hal itu. Bisa-bisa malah disuruh resign atau pindah kerja, dan mengingat susahnya mancari pekerjaan saat ini, Wulan masih menyimpan itu semua. Toh tidak akan lama, sesuai janji Wawan dulu, hubungan mereka akan memasuki tahap selanjutnya yaitu pernikahan. Beberapa kali ayah Wulan telah meminta kepada Wawan untuk membawa keluarganya datang kerumah membahas apa yang terbaik untuk mereka ke depannya, agar bisa dipersiapkan segala sesuatunya. Wawan menjanjikan semua itu dilibur semester depan, akan membawa keluarga besarnya ke rumah Wulan.

Hal-hal yang indah bagi Wulan saat ini tak lepas dari janji mereka untuk hidup bersama kedepannya. Membayangkan apa yang dijanjikan Wawan kelak membuatnya acap kali tersenyum sendiri. 

Tinggal di rumah sederhana berdua, dan kau menunggu kepulangan ku mengajar tiap sorenya, itu telah membuatku bahagia di kehidupan ini,” ungkap Wawan meyakinkan Wulan betapa bahagianya kelak rumah tangga mereka. 

Gombalan-gombalan dangkal tersebut memang disukai Wulan, tidak peduli kenyataan itu pahit, namun sekedar khayalan itu sudah cukup membuat Wulan bahagia. Dan harapan itu semakin hari semakin besar, rasa ingin bersama bak air bah yang datang keroyokan ke hati Wulan, bayangan wajah Wawan selalu menghantui setiap aktivitasnya.

***

Kicauan murai batu tetangga mengiringi keberangkatan Waryo pagi itu, berangkat kerja menjadi rutinitas wajibnya disetiap pagi kecuali Minggu dan tanggal merah. Waryo bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak dalam bisnis properti. Keloyalitasannya pada perusahaan selama delapan tahun membuatnya diangkat menjadi Direktur Pemasaran, sebuah pencapaian yang istimewa. Di sana juga dia mengenal istri pertamanya yang bernama Ita, dara cantik bertubuh bohai tersebut berhasil dipersunting Waryo. Namun apa hendak dikata, hubungan mereka kandas ditengah jalan, sikap tempramen Waryo tidak bisa dibendung ketika tau Ita sering pulang ke rumah ibunya untuk mengadu hal-hal sepele yang terjadi dalam rumah tangga mereka, Waryo tidak suka hal tersebut. Empat bekas jari membiru di wajah Ita, membuat hakim pengadilan melegalkan perceraian mereka. Peristiwa tersebut persis terjadi setahun yang lalu, sebelum Wulan masuk ke perusahaan ini. Dan kedatangan Wulan seolah membangkitkan gairah Waryo kembali untuk mencari pasangan hidup, dan melihat kepolosannya semakin membuat Waryo menggebu ingin memiliki.
 
Bunyi klakson menggema ketika mobil Waryo memasuki gerbang kantor dan melaju dengan mulus ke parkiran yang tersedia khusus. Di sana Waryo melihat Wulan senyum-senyum sembari memegang hape yang didekatkan ke telinganya. Waryo curiga, dengan siapa gerangan menelepon dan senyum-senyum begitu, meskupun tidak ada hubungan tapi rasa cemburu telah merasuki pikiran Waryo. Tak basa-basi seperti biasanya dia langsung menuju office, menunggu Wulan masuk dan akan menanyai hal tersebut.  Sembari menuju pantry Waryo bersiul sekaligus melirik ke Wulan yang baru duduk di kursinya.

Telat nih, abis ngapain? Tumben,” tanya Waryo sembari menuangkan air panas ke gelasnya. “Iya pak, maaf, tadi kesiangan,” jawab Wulan.
Kesiangan apa kesiangan? Atau sibuk teleponan? Telponin siapa? Senyum-senyum sendiri,” Waryo tetap menekan dengan ketus.
Wulan bingung sekaligus kaget dengan cercaan pertanyaan itu, dan membuatnya mantap harus berani jujur dan terbuka. “Habis ditelpon calon suami pak!” jawab Wulan mantap.

Seketika Waryo menyeruput kopi yang baru selesai diaduk dengan sedikit gula cair, terasa begitu pahit dan tersendak di kerongkongan. Mengambil secarcik kertas dalam kantong baju, meremuk, dan membuangnya ke tong sampah sambil berlalu. Kertas yang penuh coretan dan beberapa potongan kalimat. Hasil berpikir semalam suntuk setelah pulang dari pertemuan dengan customer kantor, bapak-bapak yang mau membeli satu unit rumah untuk anaknya yang akan menikah. Wulan curiga dan penasaran lalu mengambil dan membacanya…

Meski menunggu itu bosan, tapi aku siap menununggu mu dengan tanpa bosan.
Meskipun menanti itu jenuh, tapi aku rela menanti mu tanpa jenuh.
Meskipun kecewa itu sakit, tapi aku rela merasakan itu untuk mu.
Kamu membuatku bergerak perlahan untuk merasakan itu semua dengan sadar.
Aku mencintaimu baru, seumur padi yang baru menguning, seumur beras yang baru dikupas.
Mungkin kesempatanku kecil, atau nyaris tidak ada,
namun asa tidak boleh pupus, harapan terus dikembangkan dan diperjuangkan.
Bukankah Tuhan hanya menyuruh hambaNya begitu? Berusaha dan berdoa.
Soal hasil biarlah menjadi rahasia dan tugasNya.
Dan apapun itu, disanalah kata sabar dan ujian patut dipahami. Jadikan sebagai refleksi untuk usaha dan doa yang lebih kuat lagi…
***

WijayaLahir di Lampanjang, Sutera 30 tahun silam yang sedang berusaha keras menjadi suami yang soleh.

Related posts

Untuk Seorang yang Tak Pernah Tau

bandamaster

Rindu Itu Sesak

bandamaster

Datang dan Pergi

bandamaster