Home » Tari Sikambang Manih, Seni dan Budaya Warisan Kerajaan Inderapura
Kebudayaan

Tari Sikambang Manih, Seni dan Budaya Warisan Kerajaan Inderapura


Tari Sikambang Manih adalah salah satu warisan seni budaya masyarakat Pesisir Selatan yang berasal dari Kesultanan Inderapura. Sikambang dalam tarian ini artinya yaitu pelayan. Tarian ini menampilkan ekspresi jiwa (kesenangan/ kegembiraan) yang dirasakan oleh beberapa orang pelayan atau sikambang pada saat menumbuk padi yang diwujudkan dalam bentuk gerak. Tari Sikambang Manih berkembang di beberapa daerah di Kabupaten Pesisir Selatan, terutama daerah Kecamatan Airpura dan daerah eks Kecamatan Pancung Soal. Meskipun secara administratif pada masa sekarang dua daerah tersebut merupakan kecamatan yang berbeda, namun secara historis daerah-daerah tersebut adalah satu kesatuan yang sama pada masa lampau, yaitu daerah Kesultanan Inderapura.

Tari sikambang manih  menjadi salah satu warisan budaya dari Pesisir Selatan yang masuk kedalam 13 warisan budaya tak benda (WTWB)  Sumatera Barat yang juga dikukuhkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WTBI)  pada tahun 2019.

Sebagai suatu tarian, tari Sikambang Manih dipadukan atas gerak yang berpola yang terdiri dari beberapa pola dan jenis gerak serta dipandu atau diiringi dengan musik  dan ditampilkan oleh 6 orang penari sehingga tarian ini begitu estetik. Musik pemandu/pengiring Tari Sikambang terdiri dari ansambel dan vokal. Musik ansabel terdiri dari suara yang bersumber dari alat musik rebana besar dan gendang.

Dilansir darikebudayaan.kemdikbud.go.id Keberadaan tari Sikambang Manih erat kaitannya dengan Kerajaan Inderapura. Menurut cerita,pada suatu hari tiga orang sikambang (pelayan) sedang menumbuk padi di bagian belakang  istana (rumah raja), sultan kesultanan Inderapura. Mereka menumbuk padi dengan gembira sambil menyanyi dan melakukan gerakan-gerakan yang indah. Tanpa disengaja raja/sultan memperhatikan aktivitas para sikambang. Raja/Sultan yang tertarik dengan gerakan dan nyanyian sikambang langsung mendekati mereka. Para sikambang terkejut dengan kedatangan raja serta mereka langsung meminta maaf dan ampun kepada raja/sultan karena merasa lalai dalam bekerja. Para sikambang mengira raja akan marah besar. Namun ternyata diluar dugaan para sikambang, raja/sultan malah memuji gerakan-gerakan indah yang dilakukan para sikambang sambil menumbuk padi. 

Pada suatu ketika raja ingin mengadakan suatu perhelatan. Raja memanggil para sikambang untuk mempersiapkan tarian dalam acara perhelatan tersebut. Untuk melengkapi jumlah penari menjadi empat orang, raja/sultan menyuruh seorang dubalang berlatih menari bersama sikambang. Tari yang berasal dari gerakan-gerakan sikambang saat menumbuk padi tersebut diberi nama tari Sikambang Manih.  Karena beberapa alasan/kondisi, dalam acara perhelatan tari sikambang manih ditampilkan oleh laki-laki yang berpakaian dan berdandan seperti perempuan. Hal ini kemungkinan besar karena pada masa itu tabu bagi perempuan untuk tampil/menari di keramaian. Tari Sikambang Manih kemudian menjadi sebuah tarian Kesultanan Inderapura, yang ditampilkan untuk menghibur tamu-tamu dalam acara perhelatan-perhelatan kerajaan/kesultanan Inderapura.

Meskipun kesultanan Inderapura sudah berakhir masa kekuasaan dan kejayaannya, namun saat sekarang ini tari Sikambang Masih tetap dilestarikan oleh beberapa seniman. Tari sikambang Manih ditampilkan untuk acara-acara menghibur tamu-tamu nagari maupun tamu-tamu kebesaran lainnya yang datang ke daerah bekas kesultanan Inderapura. Tari Sikambang Manih mengalami perubahan dalam era awal 90-an, tari Sikambang Manih mulai dimainkan/ ditampilkan oleh perempuan. 

Bagi masyarakat pada masa lampau maupun pada masa sekarang, tari Sikambang Manih masih mempunyai fungsi pemenuhan kebutuhan manusia terhadap estetika, baik estetika sebagai kebutuhan ekspresi jiwa penciptan dan pelakunya, maupun estetika sebagai kebutuhan konsumen atau penikmat semata. 

Dengan diterima dan dikukuhkannya tari sikambang manih yang diciptakan oleh sikambang (pelayan) yang merupakan masyarakat rendah oleh sultan sebagai tari dalam lingkungan kesultanan, maka akan kuat dan kokoh nilai bahwa kesultanan Inderapura menghargai seluruh lapisan masayarakat dan tidak arogan. Dengan demikian, posisi tawar penguasa (sultan) semakin kokoh dalam masyarakat.


Related posts

Raja Pagaruyung Tidak Mempunyai Kekuasaan di Wilayah Darek

Afrizal

Disebut Sebagai Tato Tertua di Dunia, Inilah Keunikan Tato Mentawai

bandamaster

Kacaunya Organisasi Adat di Minangkabau Karena Politikus

Afrizal