Home » Resensi Buku “Cara Tuhan untuk Memperingatkan Umatnya”
Sastra

Resensi Buku “Cara Tuhan untuk Memperingatkan Umatnya”

Cara Tuhan untuk Memperingatkan Umatnya 



Judul buku : Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman
Penulis : A. Mustafa
Penerbit : Shira Media
Cetakan : Pertama, 2019
Tebal : vi + 358 halaman
ISBN : 978-602-5868-80-1

Buku ini adalah Pemenang II Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018. A. Mustafa merangkai peristiwa-peristiwa seseorang pada novel ini. Ceritanya diangkat dari kisah nyata Pak Suko yang merupakan salah satu Jemaah Ahmadiyah. Penulis menceritakan biografi Pak Suko dengan alur bolak-balik sesuai lompatan kisah yang keluar dari mulut narasumber. Walaupun penulis akhirnya mendapatkan wewenang membumbui ceritanya dengan imajinasi agar ceritanya lebih dramatis dan menarik, itu semua atas izin Pak Suko.

Baca juga: Dendang Membara Pirin Bana


Novel ini menabrak logika pembaca, mengapa tidak. Tokoh utama yang bernama Rara Wilis atau biasa dipanggil Mbok Wilis atau Pak Wo atau Pak Suko atau nama lengkap serta aslinya Suko Djatmoko Purwo Carito. Menampar-nampar realis yang berkembang di masyarakat saat ini. Bahwa kehidupan dunia malam meraja lela, begitu juga dengan para waria yang sesungguhnya telah melanggar kodratnya dari ajaran agama Islam. Seolah-olah tidak mensyukuri atas nikmat serta takdir yang sudah ditetapkan Pencipta, menjadi seorang lelaki. Namun perihal ini semakin ke sini tidaklah menjadi tabuh.

Mbok Wilis adalah ketua PAWATRI (Paguyuban Waria Tri Lomba Juang) yang sering nyebong atau mangkal cari pelanggan di Jalan Tri Lomba Juang yang memang merupakan pusat pelacuran waria Semarang, atau di Pandanaran Selatan tempat berkumpulnya waria-waria tua, jelek lagi menor. PAWATRI menjadi rumah aman bagi para waria dan LGBT di paguyuban itu. Penulis bisa memainkan kisahnya bahwasan berkembangnya waria yang tidak terbendung mendapatkan perlindungan tidak kasat mata dari pihak keamanan, pemerintah, dan pihak lainnya. Asalkan PAWATRI bisa bermain cantik bersama pihak tertentu dan membayar uang tagihan kelompok perbulannya. Serta tidak membuat onar yang bisa memancing keributan besar dan mencemarkan nama baik keamanan dan perjanjian tertulis sebelumnya (hal.44).

Baca juga: Jambau Terakhir


Pergolakan kehidupan Mbok Wilis menjadi PSK waria sangatlah rumit. Dari statusnya waria papan atas, memiliki langganan spesial seperti Om Ping yang memberikan bayaran yang tinggi, memiliki teman kencan atau pacar hingga 14 orang, mulai dari brondong-brondong anak pesantren hingga Haris orang yang mengisi hidupnya sekian lama. Ia sempat terjerat hidup dengan haris sekian tahun. Mbok Wilis sering dipukuli oleh Haris hingga babak belur, pernah ingin di bunuh dengan cara dibakar hidup-hidup di rumahnya pasca pertengkaran hebat di antara mereka. Tapi Mbok Wilis tidaklah bisa pergi jauh serta membenci Haris. Seumpama Haris adalah orang yang sangat ia cintai sekaligus penghancur dalam hidupnya (162. hal). 

Novel ini menyajikan tentang keterkaitan antara cerita wayang purwa dengan kemenangan di akhir zaman. Kelak nanti akan ada peperangan maha dahsyat. Dan perang itu sudah dimulai dari sekarang, jihad fii sabilillah. Perang di masa sekarang tidaklah seperti dahulu, angkat senjata. Sebab jihat senjata adalah jihad kecil. Dikisahkan bahwasannya pengganti dari senjata adalah ilmu dan doa. Kemudian jihad menengah adalah jihad pena, jihad melalui ilmu pengetahuan. Pena dan buku memiliki pengaruh yang lebih dahsyat ketimbang peluru. Lalu, pada tingkat tertinggi adalah jihad akbar: jihad melawan hawa nafsu, sehingga kita menjadi manusia-manusia berhati jernih yang doa-doanya akan selalu diijabah oleh Allah (hal. 40-41).

Baca juga: Surat dari Ibu


Perbedaan keyakinan di tengah-tengah masyarakat adalah sumbu api perselisihan. Pak Wo yang merupakan Jemaah Ahmadiyah dibenci dan dikucilkan oleh tetangga-tentangganya. Difitnah bahwa Ia adalah penganut aliran sesat. Banyak orang yang mencoba membenturkan Pak Wo agar pergi dari daerah tersebut. Orang-orang dewasa mengasut dan memperingati anak-anak kecil agar tidak terlalu dekat dengan Pak Wo. Pak Wo akan menculik anak-anak tersebut dan diajak masuk Ahmadiyah, atau dijadikan bumbu jamurnya, dan banyak hasutan lainnya yang tersebar di masyarakat. Pak Wo sabar dan ikhlas atas perjuangan dakwahnya tersebut.

Kepala Desa, RT, Satpol PP, Jemaah Masjid tidaklah bisa mengusir Pak Wo. Pok Wo bisa mengatasi dalil-dalil tidak baik dari mereka dengan jawaban yang tidak terbatahkan. Membuat orang yang menentangnya kesal dan menyebar fitnah ke mana-mana untuk memusuhinya.

Baca juga:Polemik Hati 


Suatu hari Ibu Sri yang merupakan ibu kandung Pak Wo atau Pak Suko, Suko Djatmoko Purwo Carito mengambil baiat untuk resmi masuk Jemaah Ahmadiyah. Ibunya sangat senang dibaiat, hatinya merasa tenang dan bisa beribadah dengan khusuk. Bapaknya, Pak Suko tidak mempermasalahkan hal tersebut. Desas-desus Ibu Sri masuk Jemaah Ahmadiyah sampai juga ke telinga kakak kandungnya Pak Suko. Kakaknya tersebut segera datang ke rumah ibunya dan menyatakan ketidaksukaannya. Pertengkaran dan adu argumen terjadi antara Pak Suko dengan kakaknya itut. Singkatnya, Pak Suko harus memilih meninggalkan ajaran Ahmadiyah atau pergi dari rumah tersebut. Dengan mantap tanpa rasa sedih dan bersalah Pak Suko meninggalkan rumah tersebut dan mencari kontrakan. Ibunya sangat sedih dan Pak Suko berjanji akan datang sekali seminggu untuk berkunjung melihat ibunya. Mereka berpelukan tanda perpisahan. Musuh terberat di dalam hidup adalah keluarga dan diri sendiri. Tidak bisa diusir oleh orang lain, Pak Suko akhirnya mengalah dan terusir oleh keluarganya sendiri.

Pergelutan perubahan Rara Wilis atau Mbok Wilis yang merupakan PSK waria kembali menjadi seorang laki-laki sesuai kodratnya. Ia kembali ke rumah keluarganya. Meninggalkan aktifitas ¬nyebong yang sudah bertahun-tahun ia lakoni. Perubahan itu tidak serta-merta terjadi. Penuh dengan penentangan-penentangan dari Haris kekasihnya. Walaupun sebenarnya Pak Suko mendapatkan Hidayah dari buku-buku bacaan tentang Ahmadiyah yang ia dapat di dalam jok motor vespa Haris.

Pada saat Haris mengetahui Mbok Wilis masuk Jemaah Ahmadiyah, ia marah-marah besar dan memukuli Pak Suko hingga tidak berani lagi salat berjamaah di masjid Nusrat Jahan. Fitnah-fitnah yang disebarkan Haris tumbuh subur, di pos ronda orang menggunjing Pak Suko. Mengatakan hal-hal yang tidak baik tentangnya. Kabar buruk itu terus berhembus seperti api disiram bensin. Kembali Pak Suko mendapatkan benturan dan cobaan. Hijrahnya untuk kembali menghadap Allah tidaklah mendapatkan jalan mulus (hal. 308).

Segala cobaan atau ujian yang diberikan Tuhan kepada manusia, tidaklah terlepas dari kesanggupan manusia tersebut untuk bertahan dan melewatinya. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Abqarah ayat 286, yang artinya:
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapatkan siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir”
Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa ini adalah janji Allah membebani kita dengan ujian yang tidak kita sanggup. Begitulah akhirnya Pak Suko bisa berdakwah dengan damai dan bisa diterima oleh jemaah, keluarga dan orang sekitarnya. Haris pergi menghilang dari hidupnya selama-lamanya

Redovan Jamil, lahir Padang Benai salah satu kampung kecil di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Ia adalah salah satu penggiat literasi pedalaman. 

Related posts

Malam Tanpa Suara

Afrizal

Rabab Pasisia

Afrizal

Puisi Titi Fitri

bandamaster