Home » Sehimpun Puisi Sri Jumaini
Sastra

Sehimpun Puisi Sri Jumaini


Cerita Malam

Malam telah mengantar pagi
Untuk kembali menyusun cerita
Dari satu episode ke episode lainnya
Tentunya cerita tentang kita

Malam telah mengantar pagi
Untuk membiarkan kita merenungi pengembaraan yang panjang dan mungkin tak bertepi.


Malam juga telah memutus mimpi
Mimpi yang pernah dulu kita untai
Untuk dirangkai pada senja yang akan usai

Malam telah memberi banyak makna pada hidup yang pernah dirasai.

Lumpo, Maret 2020
Nyanyian Sepi

Waktu terus berlari
Betapa lekas siang menepi
Memberi ruang pada sepi tuk bernyanyi
Lagukan lara dengan rintih yang perih

Sementara harapan hanya mampu menjemput resah
Mengunyah sisa-sisa mimpi yang hampir punah
Pada sudut-sudut waktu yang sekarat
Dan tak kunjung usai diterpa badai

Wahai jiwa….
Bersabarlah,
Biarkan kulipat dulu sisa-sisa kepedihan itu
Yang terbentang dalam pengembaraan yang panjang
Sampai ketika pintu-pintu dan jendela tak terbuka lagi
Untuknya…

Lumpo, 23 Maret 2020
Terperangkap

Perahuku terperangkap pada dua dunia
Berbeda dan terasa asing
Sunyi mengrogoti hati 
Hampa tak bergeming

Perahu tetapku dayung 
Meski dengan kemudi yang patah
Terseok, merangkak
Tak pasti, kapan mencapai tepi

Terperangkap pada dua Dunia yang berbeda 
Dada sesak, pengap
Sementara asa berlari 
Tinggalkan mimpi
Kapan duniaku kembali

Terperangkap pada dunia berbeda makin menyadarkanku
Bahwa kita telah salah memilih dermaga

Lumpo, 13 Februari 2020
Hujan di Akhir Januari

Hujan di akhir januari
Curahnya menghentak jiwa
Membawa resah
Membawa gelisah
Suara rintiknya terasa pilu di relung kalbu yang nyaris bisu

Hujan di akhir Januari membawa banyak cerita
Tentang kita yang nyaris tak bahagia
Dalam merenda kasih pada usia senja

Hujan di akhir Januari
Mungkinkah itu pertanda
Bahwa kita kan bernaung pada payung yang berbeda?

Lumpo, 29 Januari 2020
Surat dari Ibu

Saat surat ini Ibu tulis
Ibu yakin matamu sudah terpejam
Terlelap dalam pagutan malam yang sunyi dan dingin
Tapi sekali lagi Ibu yakin anakku
Meski matamu terpejam dalam  lelapmu
Tapi hati, jiwa dan pikiranmu tengah berlari menjelajahi dunia yang luas  untuk kau tundukkan.

Anakku, terbayang di pelupuk mata ibu
Wajahmu yang penuh tawa, canda dan ceria
Tapi jauh di relung-relung pikiranmu
Terdapat sejuta cita dan keinginan yang mulia yang ingin segera kau wujudkan.

Ibu tahu anakku
Tak mudah bagimu untuk mencapai semua itu
Jalan yang panjang dan berliku akan membuatmu letih
Onak dan duri yang tajam akan sering melukai hatimu yang bening itu
Dan itu sangat menyakitkan.

Bukan itu saja anakku ada yang lebih mengkhawatirkan Ibumu ini
Yaitu dinding tembok pembatas yang menjulang tinggi, kokoh dan tentunya akan sulit bagimu untuk menerobosnya.

Anakku sayang
Mimpimu adalah impian ibumu jua
Naluri Ibumu inilah yang membimbing Ibu untuk selalu berdoa dan berharap pada Yang Kuasa agar pada suatu masa Ibu akan melihat engkau berdiri di tengah kerumunan orang-orang yang mencintaimu dan membangun negeri ini sesuai dengan harapan dan cita-cita orang banyak.

Suatu hari nanti Ibuakan menyaksikan potretmu berada di setiap sudut kota dengan tangan yang mengacung ke langit


Jari yang mengepal Persis seperti saat kita foto bersama beberapa hari yang lalu.

Anakku sayang
Malam semakin larut jua
Doa ibu senantiasa sehat dan kuat agar bisa bertahajud untuk menyampaikan mimpi-mimpimu itu pada Sang Khalik
Semoga doa ibu dijabahNya, anakku.

Sekian dulu surat dari Ibu.
Lumpo, Januari 2020

Related posts

Pupus

bandamaster

Polemik Hati

Afrizal

Terperangkap

bandamaster