Home » Edukasi Politik Menuju Kedewasaan Berpolitik
Opini

Edukasi Politik Menuju Kedewasaan Berpolitik

Ilustrasi : bandasapuluah

Orang bijak berkata, “Menua itu pasti, dewasa itu pilihan.” Maksudnya bukan berarti semua orang akan hidup sampai tua, namun bertambahnya umur, berkurangnya jatah hidup adalah suatu hal yang bersifat kodrati. Sementara untuk bisa berfikir dan bersikap dewasa, jelas itu adalah pilihan sadar. Tidak terjadi otomatis secara tidak sadar. 

Baca juga : Kenali Titik Buta Kepemimpinan Anda

Permasalahan kita sekarang, apakah masing-masing kita mau untuk menjadi lebih dewasa? Lalu siap berproses menuju kedewasaan itu?

Memahami proses pendewasaan tidak butuh analogi rumit. Cukup pahami saja sebagaimana seorang individu tumbuh dari balita, anak-anak, remaja, dewasa. Ketika anak-anak, terkadang kita berantem dengan teman bahkan saudara sendiri, marah sehari-dua hari, setelah itu toh kita berteman dan bermain bersama lagi. Tidak ada jiwa pendendam.

Baca juga : Galeh Langau Hijau di Media Sosial

Ketika remaja kita cendrung mencoba hal-hal baru. Baru juga belajar merokok tapi lagak sudah petantang-petenteng. Sok jago, semua orang rasanya mau diajak berkelahi. Mulai puber, sedikit-sedikit bikin sensasi, guna menarik perhatian orang, apalagi pujaan hati. Walaupun cara-cara yang ditempuh sebenarnya norak. 
Tanpa perlu menunjuk batang hidung, cukup bawa introspeksi diri masing-masing, perilaku seperti ini barangkali banyak kita jumpai di masyarakat, termasuk di grup-grup medsos. Ada saudara kita yang punya banyak waktu ribut ‘cakak muncuang’ meladeni ‘induak-induak’. Ada saudara kita yang provokatif tapi bersembunyi di balik topeng. Ada saudara kita suka mengancam akan melaporkan si anu si itu. Dimana saya jadi teringat kembali memori waktu kecil dulu, entah nyanyian ini masih suka dilantunkan anak-anak sekarang atau tidak: “Pangadu, pangadak, makan cirik sagarobak, indak abih agiahkan ka abak”.
Setelah kita beranjak dewasa, tak jarang perilaku kita semasa kecil atau remaja itu membuat kita tersenyum sendiri. Kok dulu saya begitu ya? Tapi demikianlah proses hidup. Kita semakin mengerti arti pertemanan, saling menghargai. Andai kata, jika harus ribut juga dengan orang, pastikan itu karena sudah menyelisihi prinsip hidup, nilai kemanusiaan, esensi iman, atau perkara substansial lainnya. Hanya saja ribut tidak boleh lama-lama, berkepanjangan. Suatu saat harus diakhiri jua. Makin cepat tandanya makin dewasa.
Begitu pula dengan kedewasaan berpolitik. Dia bukan barang instan. Tidak di jual di pasar, di kampus, di lapau, di kantor, atau bisa dibeli di manapun. Kedewasaan berpolitik ialah proses. Setiap orang harus bersabar melaluinya jika ingin naik level ke taraf dewasa. Ada proses penempaan di sana. Pernah lihat bagaimana sebilah pisau ditempa? Setelah jadipun pisau tetap harus diasah dengan batu, bukan kertas! Kita bisa saja mengklaim diri kita telah memiliki kedewasaan itu. Tapi sang waktu tidak dapat dibohongi. Mata khalayak juga banyak yang mengawasi.
Diantara ciri kedewasaan berpolitik yaitu ‘Dipuji tidak terbang, dihina tidak tumbang’. Fokus kita tetap harus pada substansi perbaikan tata kelola serta tata laksana dari pemerintah Pessel itu sendiri. Pejabat publik itu butuh kritik sebagai kontrol sosial. 

Nah, yang repot jikalau seseorang sudah terlanjur berada di posisi pejabat publik tapi belum dewasa dalam berpolitik. Mereka yang bergelut dengan manajemen organisasi pasti tahu *’Prinsip Peter’*. Yakni merujuk kepada fenomena lompatan jenjang karir seseorang terlalu cepat atau tinggi, sedangkan kapasitas pribadinya masih tertinggal/belum dapat mengimbangi laju tersebut. Kapasitas baru cocok mengurusi RW tapi sudah jadi Walikota. Kapasitas baru cocok mengurusi kabupaten tapi sudah jadi kepala negara. Akibatnya na’as celaka duabelas buat rakyat.
Saya tidak peduli andaikan ada pejabat daerah mau poligami atau nikah siri. Itu hak pribadi dia, selama rukun dan syarat agama dan administrasi negaranya sudah ditempuh, silakan. Sebab itu ranah pribadi. Akan tetapi bila dalam menjalankan tugas cuma ala kadarnya, minim terobosan, kebijakanya kurang pas, sibuk memoles citra diri, jelas itu masuk ranah publik. Atau misalkan rakyat miskin tapi gaya hidup pejabat daerah dan keluarga justru glamor. Meski secara peraturan tidak ada yang dilanggar, namun secara etis itu menciderai rasa keadilan publik. Sehingga harus peka.

Oleh karena itu, mari bersama berproses menuju kedewasaan berpolitik. Sebenarnya porsi tugas edukasi ini lebih banyak dipundak Partai Politik. Meski tidak salah juga turut dibantu oleh individu.

Andre Husnari,Alumnus SMP 1 Painan.

Related posts

Ancaman Politik Dinasti Mengintai Pessel Pasca Pilkada

Afrizal

Pesisir Selatan Potensial Menjadi Kawasan Ekonomi Syariah di Regional Maupun Nasional

Afrizal

Hubungan Rantau dengan Kampung Halaman

Afrizal