Home » Air Terjun Palangai Gadang: Bisakah Wisata Alam Lokal Menjadi Eksis?
Pariwisata

Air Terjun Palangai Gadang: Bisakah Wisata Alam Lokal Menjadi Eksis?

 

Air terjun Pelangai Gadang. Foto: Arif P Putra

Bila ada nominasi tempat wisata terindah, barangkali Kab. Pesisir Selatan akan masuk dalam kategori itu. Bicara destinasi wisata, Pesisir Selatan adalah salah satu Kabupaten di Sumatra Barat yang wajib dicatat pengunjung sebagai tujuan wisata memanjakan mata. Tidak hanya kawasan pantai dan pulau saja, Pesisir Selatan juga memiliki bukit-bukit yang tak kalah indah untuk dijadikan sebuah perjalanan wisata, semisalnya Bukit Langkisau, Puncak Mandeh, Air Terjun Bayang Sani, Jembatan Akar, Negeri Atas Awan dan Lainnya. 

Meski begitu, tidak banyak pula orang tau tempat-tempat wisata alam Pesisir Selatan lainnya. Terbaru adalah Sarasah Talang, Lumpo. Tentu tempat ini sudah ada sejak lama, namun akhir-akhir ini mulai ramai dikunjungi anak muda (mungkin efek dirumahkan). Dibantu oleh media sosial yang menayangkan betapa indahnya alam di sana membuat Sarasah Talang berseweliran diberbagai postingan akun media sosial. Belum lagi air terjun yang berada di Sako, Tapan/Silaut, Air Terjun Sungai Liku, Lakitan, dan banyak lagi. 

Tapi kali ini kita tidak sedang membahas tempat-tempat indah itu, saya berkunjung ke sebuah air terjun yang terletak di Palangai Gadang, Ranah Pesisir, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Air terjun ini barangkali termasuk salah satu Air Terjun tertinggi di Kab. Pesisir Selatan. Air terjun di Palangai Gadang cukup tinggi, dengan dinding tebing yang menjulang, ditambah lagi curah air yang jatuh sangat besar sehingga menimbulkan bias dan menciptakan pelangi. Belum lagi pohon-pohon nan rindang dan bebatuan berlumut menyimpan dingin, licin yang menyelimuti bebatuan membuat pengunjung diharuskan hati-hati. Tempias air yang jatuh itu mengembun pada ke permukaan luar tubuh, semakin menambah sejuk suasana di lokasi air terjun. 

Petunjuk Jalan menuju Air Terjun. Foto: Riri Tri Utami



Perkiraan jarak tempuh kalau dari pasar Balai Selasa, akan memakan waktu sekitar 40 menit/lebih. Saya masuk dari simpang Teratak Panas (Simp. SMA 1 Ranpes) menuju Limau sundai, setelah itu belok kiri, kemudian belok kanan agak mendaki. Lalu lurus sekitar 10/15 menit sampai melihat sebuah gapura petunjuk Air Terjun Palangai Gadang. Jarak tempuh ini tergantung kondisi jalan dan kendaraan yang digunakan. 

Demi mendapati cerita lain dari lokasi air terjun, aku memberanikan diri mengajak seorang peladang yang sedang melepas lelah berbincang-bincang. Ia ceritakan tentang keadaan lokasi dari tahun ke tahun. Ia katakan bahwa dulu lokasi air terjun menjadi tempat favorit anak-anak sekolah mengadakan camping: kelompok pramuka dan umum. Alasan yang menguatkan dugaan mengapa lokasi tersebut tidak lagi menjadi pilihan wisata alam bagi sekolah/umum adalah karena jarak tempuh dan akses jalan yang buruk. Meski pada persimpangan menuju lokasi air terjun sudah dibuat semacam gapura bahwa air terjun Palangai Gadang adalah destinasi wisata. Tapi harus diakui, akses jalan merupakan kunci dari maju atau tidaknya sebuah tempat. 

Kemudian setelah memasuki simpang menuju air terjun, terdapat pula sebuah kantor penjaga (semacam pos yang biasa digunakan untuk membeli tiket masuk). Saya berpikir, sepertinya tempat ini pernah dicanangkan sebagai destinasi wisata “serius”, tapi barangkali pengelolahannya kurang tepat. Sebab, bangunan gapura dan kantor penjaga sudah meyakinkan sekali untuk menjadi sebuah tempat wisata. Namun sayang, jalan yang dihuni tanah kuning dan kerikil lebih dipertahankan ketimbang lelehan aspal, sehingga hanya menghasilkan bercak kuning pada dinding gapura dan pos penjaga. 

Di perjalanan,… 

Di perjalanan, aku menghirup aroma tanah kuning dan bau hutan, sambil mendengarkan gemericik air sungai. Ditambah lagi kesiur burung begitu ribut, orang-orang ladang berhilir menuruni bukit, sawah yang baru selesai dituai, juga batang karet yang baru selesai disembelih peladang. Aku masih melihat getah putih itu meleleh, seperti doa tuan tanah kepada toke. Aku saksikan anak-anak di kaki bukit Palangai Gadang bermain air, bapak yang menyimpan lelah diamdiam tersandar di sebuah besi tempat kontrol Irigasi. Barangkali ia hendak mandi di sana atau sekedar melepas lelah. 

Kondisi Jalan Menuju Air Terjun. Foto: Afrizal



Lalu saya sampai di lokasi Air Terjun. Disambut oleh tumpahan bak air PDAM, juga lecah semata kaki menyapa kedatangan. Aku terobos mereka menuju gesa ke air terjun, tak sabar mengambil gambar dan menikmati sejuknya suasana sekitar. Air berjatuhan begitu tinggi, membawa curah air yang besar, menghempas ke bawah dan ditunggui bebatuan besar. Gemericiknya beda dengan suara sungai, bunyi air tumpah itu lebih bising, tapi tidak panjang seperti gemericik sungai, belum lagi suara aliran air mengalir melewati bebatuan besar; hilang-timbul. 

Aku basuh muka yang lelah, kuterima dengan iklas tempias itu menerpa wajah. Membentuk bias tak henti-hentinya, matahari setengah tegak tali, ia membantu bias membentuk warna. Aku duduk dan menyaksikan gerombolan air terjun bebas, membentuk curah air yang menjadikannya indah. Meski begitu, mencapai bagian bawah air terjun memang harus hati-hati, karena lumut telah menyelimuti bebatuan, sehingga membuat mereka begitu licin. Lokasi ini terjal, saya lebih menyarankan untuk tidak melewatinya. Tetapi ada jalan alternatif untuk sampai ke bawah tumpahan air itu, saya mencoba melewati lereng bukit untuk sampai ke bawah air terjun jatuh. Sedikit mendaki, namun lebih aman kalau dibandingkan melewati bebatuan. 

Sebuah posko Informasi yang tidak digunakan. Foto: Afrizal



Aku pandangi air yang tumpah tak terhingga lengkap dengan muda-mudi berebut selfie, sorak bahagia juga paras sepasang manusia yang jatuh cinta, mungkin saja mereka sedang melakukan perjalanan pertama untuk sebuah hubungan cinta. Aku pernah mengalami hal tersebut, jadi cukup tau gelagat pria yang kaku saat diajak wanita berpose. 

Aku tinggalkan lokasi air terjun setelah dua jam berada di sana, sambil terus mendoakan akses jalan diperbaiki dan semak-semak segera ditebas. Sungguh perjalanan yang membahagiakan, jauh dari keriuhan klakson, umpat karib soal corona dan celoteh emak-emak soal bantuan. Semuanya dapat dibius, sekedar melepas penat pikiran. 

Arif P Putra, kelahiran Koto Baru, Surantih, Pesisir Selatan. Penulis Novel ” Binga, 2019, Penerbit Purata” dan Kumpulan Puisi “Suara Limbubu, 2018, JBS Yogyakarta”.

Related posts

Puncak Taratak, Potensi Wisata yang Belum Disentuh

Afrizal

DTW Pesisir Selatan, Historis dari Zona Utama Mandeh Resort

Afrizal

Pulau Cingkuak, Benteng Bersejarah Peninggalan VOC

bandamaster