Home » Sejarah Kalah Orang Rupit di Taluak Banda Sapuluah
Kebudayaan

Sejarah Kalah Orang Rupit di Taluak Banda Sapuluah

Ilustrasi
 
 
Di Taluk diceritakan Orang Rupit meyerah. Nomenklatur Taluk itu justru simbol kekalahan orang Rupit hitam kekar itu. Orang Rupit itu taluek muntah ceritanya menarik, ditusuk dengan gelas tuak bambu runcing. Peristiwa “taluek” itu diabadikan menjadi taluak kemudian Taluk. Baca juga “Kerajaan Taluk” dalam buku “Kerajaan-kerajaan di Pesisir Selatan, Jejak Sejarah Nasional”, Yulizal Yunus, dkk, ditebitkan Diknas Pesisir Selatan, 2017. 
 
Sejarah Rupit sudah ada sejak abad ke-15, sebelum Portugis masuk ke Banda X termasuk Taluk satu di antara bandarnya. Ketika masuk abad ke-16 melalui pelabuhan Taluk, Portugis diceritakan mengambil rupit sebagai buruh pengamanan dagangnya. Orang Taluk yang dikenal “elok-elok”, padi manguning ditinggakan karena baso indahnya untuk orang yang datang, ketika Rupit masuk digunakan Portugis, justru Taluk marah.
 
Sejarah Rupit
 
  Orang Rupit dalam mencari ruang kehidupan yang lebih lega bernafas, ia menganut teori ekspansionisme (mengadakan perluasan wilayah pendudukannya). Tetua Taluk Agus Yusuf bercerita, sebelum Padang dimasuki orang Luak terutama luak Tanah Datar, orang Rupit sudah mendiami wilayah Sungai Pagu, mereka hidup di gua-gua batu tepi DAS (Daerah Aliran Sungai). 
 
Orang Rupit itu datang dari hulu Palembang dan Bengkulu diikuti rajanya. Di antaranya dicatat “Sitotok Sitarahan” serta hulubalang rajanya “Sianyah Sipilihan”. Dari cerita Agus Yusuf dalam Sejarah Taluk, 2006, Orang Rupit itu diusir Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, setelah pemerintah kerajaan menata pemerintahan adatnya. Rupit lari ke Tanjung Simalidu. 
 
Setelah ninik nan-3 kaum/ suku (Kampai, Panai dan Tigo Lareh) di Sungai Pagu, dengan membuat Taratak ke-4 di Pasia Laweh kemudian menjadi kampung, Rupit itu datang hendak balas dendam atas pengusirannya dari Sungai Pagu. 
Sampai Rupit itu menglaim menjadi rajo di Pasia Laweh, tetapi tidak dilawan oleh pangka tuo (penghulu tertua) tiga ninik dari kaum/ Suku Kampai, Suku Panai dan Suku Tigo Lareh di Pasia Laweh itu.
 
Sengketa Rupit dengan Panglima Tan Sri Dano
 
Mulanya dibiarkan Rupit itu berkuasa di Pasia Laweh, namun kemudian berakibat buruk pada rakyat. Rakyat tersiksa dan teraniaya diperas, kemudian menjadi kelaparan. Saat itu datang Tan Sri Dano, membawa beberapa kerbau dari Sungai Pagu. 
 
Tan Sri Dano dicegat Rupit dan kerbaunya dirampas. Tan Sri Dano marah besar. Peristiwa itu dilaporkan ke raja Alam Surambi Sungai Pagu setelah raja kembali ke Muara Labuh dari istana pertamanya di Ambacang Manih Ampiang Parak salah satu banda dari Banda X juga. 
 
Nama raja itu Sjamsuddin Maharajo Basa nan Bagombak Putih nan Bajangguek Merah. Raja meresponnya dengan mengirim seorang dubalang gagah berani ialah Inyiek Alang Palabah dengan Bandaro serta pasukan istana menuju Pasia laweh dan terus ke hilir yakni Batu Ampa. 
 
Di Batu Ampa, Inyiak Alang Palabah disambut kaum tiga suku. Di situ duduk saampa (sehamparan) dengan pangka tuo. Di sana mereka bermusyawarah mufakat di ateh sabuah batu besar yang terhampar. Kemudian lokasi ini disebut Batu Ampa ( luas terhampar). Kesepakatan bulat, dalam bentuk ikrar bersama, insitnya memerangi orang Rupik.
Diceritakan kemudian terjadi peperangan dahsat di Kampuang Akad. Alang Palabah dan pasukannya menang. Orang Rupit yang dipimpin Rajanya Sitotok Sitarahan tidak bisa bertahan dan lari kucar kacir. Mereka lari menyeberang air dan mendaki bukit Kayu Manang. Rupit terus diburu ke Kayu Manang, lari ke Batu Lunak, masuk ke Kapau, sampai ke Bantaian batas Air Haji dan Inderapura. (Baca juga Baca Tambo Kerajaan Kambang sumber Rajo Kampai, pernah disalin (tulisan tangan) Idrus, 17 Desember 1967, diketik Almasri Bagindo Suleman di Painan, 2 Mei 1959. Disunting Asmardi Arbi Bandaro Pahlawan di Jakarta, 28 Oktober 2007, bagian rujukan Syafrial Dt. Bandaro Itam, bukunya Monografi Kambang, 2010).
 
Rupit Orang Afrika
 
Orang Rupit, asal usulnya disebut rakyat sebagai budak-budak hitam Afrika. Ada juga yang menyebut orang hitam di Mesir. Juga disebut budak negro berbadan kekar, berambut panjang menjadi buruh Portugis. Bila mereka sakit, dibuang ke daerah sepi penduduk dan pulau termasuk ke Banda X. Agus Yusuf mengutip Westenenk, peristiwa itu terjadi antara tahun 1500-1600. 
 
Ada juga menyebut orang Rupit, sebagai orang berbadan kecil kerdil tinggal di hutan seperti Tirau atau Bigau (istilah orang Taluk orang kecil, tumitnya terbalik ke depan). Sejenis orang yang tinggal di hutan yang misterius, berfungsi sebagai tunganai penakluk babi hutan. Manusia kerdil ini juga tipe orang Kate (Jambi) atau seperti orang Gagu (Aceh). 
 
Di Sumatera Selatan terdapat sebuah wilayah dikenal Kelurahan Rupit, Kecamatan Rupit, Muara Rupit. Apakah wilayah ini berpangkal dari sejarah ekspansi Rupit atau memang dari situ asal Rupit. Namun di dalam Tambo Minangkabau belum ditemukan secara luas penceritaan tentang orang Rupit secara jelas. Namun dari cerita orang tua-tua, Rupit merasa di atas angin sampai masuknya kapal dagang asing seperti Portugis ke Banda Taluk ini.
 
Rupit ke Taluk
 
Ada menyebut rupit, misalnya dalam Tambo Sungai Pagu. Sejak awal sudah ada orang rupit di sana. Kemudian setelah datang sekelompok “imigran” (nenek sapiah balahan, keturunan ibu dari Pagaruyung) ke Kualo Banda Lakun (Sungai Pagu sekarang), mereka mengusir orang Rupit dari sana. Rupit yang terusir memasuki wilayah Banda X termasuk ke Taluk. Mereka terus diuber dan dikejar sampai menyeberang ke Pulau Pagai (Kabupaten Mentawai sekarang).
 
Orang tua-tua di Taluk direkam Agus Yusuf, Rupit itu suka minum tuak (miras), mabuk-mabukan lalu mengganggu orang. Mereka dibenci orang pribumi karena selain prilkaunya buruk, juga bentuknya juga buruk tinggi kekar hitam. Seperti Tirau yakni orang Kate atau orang Gagu yang kerdil dengan tumit terbalik. 
 
Ciri pisik orang Rupit di Taluk tidak sama dengan orang Tiru, orang Kate atau orang Gagu. Orang Rupit itu digambarkan hitam kekar tinggi, sedangkan orang Tirau badannya kecil kerdil, pendek, aneh dengan tumit terbalik. Hanya saja prilakunya sama, suka mengganggu orang. Rupit orangnya besar tinggi, terasa benar gadang malendo, hidupnya main pakang saja. Mereka disebut juga budak negro yang dipekerjakan di pertambangan dan melaut oleh orang potugis. 
 
Wilayah Taluk ini strategis berada di kaki bukit barisan dan mempunyai rawa-rawa dan dataran di bibir pantai. Ketika Taluk belum terurus dan ditata menjadi perkampung, banyak didiami orang Rupit. 
 
Dimungkinkan orang-orang rantau mudik alam Minangkabau, terutama dari Alam Surambi Sungai Pagu dari nenek Kurang Aso Enam Puluh (60 kurang satu orang) sudah ada juga ekspansi dan berimigrasi ke arah kawasan ini.
 
Orang Rupit ketika membaur dengan masyarakat di Taluk masa itu, mereka menunjukkan prilaku yang kurang menyenangkan. Masyarakat merasa banyak terganggu. Gangguan dari orang Rupit itu melemahkan ketahanan ekonomi, politik lokal, sosial budaya dan keamanan Taluk. 
 
Artinya sulit menciptakan kondisi dinamis kerajaan dalam segala aspek kehidupan tadi. Kadang prilaku rupit mengancam dan gangguan bahkan membahayakan indentitas, integritas dan keberlanjutan pemerintahan Taluk. Konflik masyarakat menjadi tantangan dan hambatan dalam membangun nagari sebagai baigan kerajaan Banda X.
 
Puncak konflik antara orang Rupit dan warga Taluk, direncanakan pembunuhan raja Rupit. Masyarakat merencanakan sebuah pasar malam, sebagai strategi rahaisa melumpuhkan kekuasaan pareman orang Rupit. Terjadilan keramaian dalam event pasar malam dalam pesta “perelatan besar”. Dalam keramaian itu ada sesi minum tuak, disebut “menuakkan” (memberi tuak sampai mabuk) orang Rupit. Pesta itu menghadirkan pemimpin raja Rupit serta orang-orangnya. Masyarakat warga ramai dan undangan dari dalam/ luar Taluk. Helat besar itu diadakan di medan nan bapaneh wilayah Sungai Tuak (sebuah dusun di Kampung Koto Panjang sekarang). Kawasan ini sampai sekarang masih bernama Sungai Tuak karena berkaitan sejarah minum tuak menundukan Rupit tadi.
 
Membunuh Raja Rupit
 
Pasar malam di Sungai tuak itu menyediakan jamuan makanan di samping sesi minuman khas orang dahulu disebut tuak terbaut dari nira enau. Terjadilah acara “minum tuak” bersama. Gelas minumnya tidak gelas, tetapi dari bambu talang yang dipotong rencong seperti bambu runcing. Rencongan bambu itu dipotong agak panjang mudah dipegang, sedangkan untuk gelasnya diperkirakan setinggi gelas dari buku (ruas) bambu itu untuk tempat mencurahkan air tuak. Bentuknya seperti mengancam korongkongan, tetapi itu menjadi kebiasaan para pemuka minum tuak pada masa itu, menunjukkan kegagahberanian.
 
Di meja khusus raja-raja, ya VIP lah namanya sekarang, duduk raja Rupit dan pembesar Taluk didamping masing-masing pengawal. Di situ sudah tersedia tuak kelas satu super memabukan dengan gelas bambu runcing itu. Mereka seperti gaya orang sekarang bersulang. Mereka saling menuangkan tuak. Warga sudah memasang strategi perangkap, tuak dilebihkan untuk pemimpin/ raja Rupit. Dituangkan dan dituangkan terus. Pemimpin Rupit terus minum dan minum menenggak gelas recong bambu runcing yang berisi tuak itu. Mereka mabuk dan perhelatan besar yang berlokasi di Sungai Tuak itu semakin kesurupan.
 
Dalam keadaan mabuk kepayang, raja Rupit itu kecanduan dan terus minum, tiba-tiba tangan warga nyelonong dan menerobos, menghentakan gelas rencong bambu runcing itu kekorongkongan raja rupit dan langsung menancap di korongkongannya. Bambu runcing menusuk korongkongan raja rupit itu terus menusuk ke jakunnya. Tak nyana lagi, lansung saat itu raja Rupit itu taluek (baca: taluwek artinya tabiloek). Tiba-tiba keadaannya kira-kira sseperti orang tercekik lalu muntah darah dan roboh. Melihat raja Rupit jatuh, maka semua orang Rupit ketakutan dan menyerah. 
 
Dikabarkan peristiwa yang sama terjadi pula di Air Haji, cara membunuh pimpinan Rupit dilakukan oleh dua orang tokoh pemberani. Kedua tokoh dikabarkan bernama “Lumang” dan “Jantan”. Peristiwanya terjadi di wilayah yang namanya berkaitan dengan peristiwa itu yakni “Rimbo Silumang” dan “Lubuk Jantan” dalam daerah Air Haji (baca laporan kontroleur Balanda Bruins, 1936).
Orang rupit yang rajanya sudah terbunuh itu, diberi kesempatan untuk lari dari kampung Sungai Tuak di kaki perbukitan yang tak jauh dari Bukit Batu Gulung Kasur sentra awal perkampungan Taluk Banda X. Bahkan Rupit yang tak cepat pergi diusir dari Taluk sampai mereka ke Mentawai. 
 
Sejak peristiwa taluek raja Rupit itu dan terbunuh, maka wilayah nagari ini diberi nama Taluek, kemudian spellingnya berubah dibaca dan ditulis menjadi Taluk sampai sekarang. Sekarang masih tetap ditulis dan dibaca dengan Taluk sekaligus mengukuhkan varian monografi nagari Taluk sebagai sejarah kemenangan menaklukan orang rupit. Nomenklatur Taluk ini juga dikuatkan dengan monografi berangkat dari kondisi alam, bahwa nagari Taluk itu terletak di sebuah teluk Pantai Barat Sumatera. 
 
Pantai teluk Taluk itu saya usul diberi nama Pantai Tan Sri Dano mengingar sejarah memerangi Rupit dan bajak laut Bajau. Bupati Pesisir Selatan Hendra Joni setuju dan meresmikannya beberapa tahun lalu dan sampai sekarang ramai dikunjungi sebagai DTW baru di Pesisir Selatan. Bupati didampingi Ketua DW Pesisir Selatan Lisda Rawdha (sekarang anggota DPR RI) dan Kadis Pariwisata dulu Kadisnya Gunawan, menjanjikan sebagai DTW pantai ke-2 setelah Carocok Painan, tinggal lagi menunggu kemauan pemerintahan nagari bersama Pemda merencanakannya dan membangunnya. 
 
Alam pantai Tan Sri Dano Taluk ini indah. Daratannya dari masa ke masa semakin bertambah luas arah ke laut, karena laut di kawasan ini sifatnya menyusut. Nikmat Itu terjadi di pantai Taluk dalam kawasan Taluk yang dihunyi 6 suku (Kampai, Melayu, Panai, jambak, Sikumbang dan Caniago), sejak penduduk turun dari pusat perkampungan pertama di Bukit Gulung Kasur dan Bukit Sigading kemudian ke Rimbo Apa abad ke-15, bagian lain sejarah Nagari Taluk.

Related posts

Mandoa Bulan Baiak, Tradisi Menyambut Ramadhan di Pessel

Afrizal

Istimewanya Perempuan Minangkabau

bandamaster

Lenjang atau Pisah Ranjang: Aib Suami atau Pelajaran Bagi Istri

Afrizal