Home » Pirin Asmara dan Anugerah Kebudayaan
Kebudayaan

Pirin Asmara dan Anugerah Kebudayaan

Raudal Tanjung Banua

Pirin Asmara.



Saya senang membaca berita tentang (alm) Pirin Asmara yang mendapatkan Anugerah Kebudayaan 2020 dari Pemda Sumatera Barat bersama tokoh dan komunitas kesenian/ kebudayaan lain.

Pirin Asmara adalah seorang perabab yang piawai menggubah dan membawakan seni pertunjukan rakyat yang berkembang di pesisir Sumatera Barat, tepatnya Kabupaten Pesisir Selatan (karena itu disebut rabab pasisie). Selain merujuk geografis, pasisie (pesisir), juga merupakan sebutan lain untuk kabupaten yang memanjang dari perbatasan Bengkulu hingga Kota Padang tersebut, dan istilah rabab pasisie membedakannya dengan rabab piaman (rabab khas Kabupaten Padang Pariaman). Mediumnya biola berdawai empat yang cara menggeseknya didirikan bertelakan kaki, bukan bertelakan bahu. 

Pirin Asmara kondang-jaya pada era 80-90-an. Selain melalui pagelarannya di berbagai helat, di dalam dan luar daerah, termasuk Malaysia, juga karena seri kaset pitanya disukai orang banyak. Kaset-kaset itu merupakan hasil rekaman studio di Kota Padang, di antaranya Sinar Padang, dan beredar secara luas. 

Jumlah kasetnya bejibun. Bayangkan, untuk tiap-tiap kaba (cerita) rakyat yang ia bawakan, seperti Puti Andam Dewi/Nan Gombang Patuanan, Sutan Palembang, Gadih Basanai, Bujang Jibun, Malin Deman, Rambun Pamenan sampai Malin Kundang, bisa berkisar sedikitnya selusin, hingga sampai 25 kaset. 

Selain kaba yang bersumber dari cerita rakyat, Pirin juga jago menggubah cerita kekinian yang dilabeli “kaba modern” seperti Marantau ka Malaysia, Abidin &  Bainar atau Laila Mudiak Ampalu. Belum terhitung kaset raun sabalik (lagu2 ala rabab) dan kaba paruntuangan (pantun2 yang didendangkan). 


***


Masa kecil saya, atau generasi saya, terpaut erat pada sosok Pirin yang berkharisma duduk di gelanggang. Wajahnya bulat dengan pancaran mata yang teduh, rambut tersisir rapi dan kumis tebal terawat. Badannya sedikit bulat tambun, dan gerak tangannya menggesek biola terkesan pelan, tapi bunyi dawai dan nilon yang digesek atau digitiknya terdengar tajam. 

Di atas semua itu, tentu saja suaranya yang khas: berat dan serak-basah, tapi bisa begitu jernih saat meninggi. Begitu pula ketika ia menyanyikan irama raun sabalik, tanpa kehilangan kharisma, keriangan dan rasa jenaka hadir menaungi arena. Pantun-pantun panjang berkait gubahannya dalam prolog kaba atau perpindahan dan penggambaran adegan/perasaan tokoh, sampai sekarang menjadi “pakem” yang selalu abadi diulangi tiap perabab.

Era di mana Pirin berjaya, sekaligus menandai kejayaan rabab pasisie, di mana sosok perabab seangkatan dia bermunculan di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan. Masa itu organ tunggal masih muncul malu-malu di tempat orang berhelat– dan kelak, pasca 90-an, organ tunggallah yang jadi pilihan utama dan rabab surut. Tapi tidak berarti meninggalkan arena apalagi tamat. 

Toh meski mulai sepi peminat, rabab mencoba adaptif dengan memasuki era vcd yang banyak menampilkan perabab dalam berbagai kreasi, tentu lengkap dengan visualnya (yang membuat penyanyi raun sabalik misalnya, juga mesti ikut berjoged; dari yang aslinya hanya duduk bersimpuh/bersila). 

Sekarang pun rabab pasisie dengan gampang ditemukan dalam dunia virtual (youtube). Raun sabalik juga memainkan pantun2 dalam irama lagu populer, dangdut, bahkan lagu India, sedikit lagi mungkin Korea. Keniscayaan zaman ini tentu punya plus-minus yang tak sepenuhnya sreg di hati.

Tapi ada yang sangat menggembirakan, tak terbantahkan. Ada sejumlah anak muda yang melanjutkan estafet rabab pasisie, dengan riang gembira, sekalipun tak banyak penonton. Saya sendiri pernah menjadi satu-satunya penonton, di luar tuan rumah helat, saat pulang kampung November tahun lalu. Toh mereka terus saja semangat dan bergairah. 

Salah seorang di antara perabab muda yang saya maksud (dan saya tonton seorang diri) adalah Al Asmara, anak kandung Pirin sendiri (lihat video). Al Asmara punya kemampuan yang saya rasa sanggup mengobati kerinduan pada sang ayah. 

Ada pula Siril Asmara yang konon murid Pirin. Pengakuan sebagai “murid” ini perlu, bukan saja membuatnya merasa mendapat pulung legitimasi nama “Asmara”, tapi lebih penting merujuk proses regenerasi rabab pasisie masih ada yang sesuai “jalur”: seorang perabab berguru kepada perabab senior dengan cara setia mengikuti dan mendampinginya, diberi waktu tampil sedikit demi sedikit, sampai akhirnya dipercaya tampil sendiri. 


***


Saya beruntung sering berjumpa Pirin Asmara semasa kecil. Ia tinggal di Sariak, Rawang, Surantih, kampung sebelah Lansano. Di situ, keluarga kakek saya tinggal sehingga jika saya berkunjung, saya sering melihat Pirin dalam laku keseharian: mengutak-atik motor honda “pitung” merah kesayangannya, atau duduk merokok berkain sarung. 

Lebih dari itu, ia berteman baik dengan Pak Gaek Sani, suami mak gaek saya. Kedua orang itu sering ngobrol di teras rumah Mak Gaek, selain ditemani kopi juga kerap dihidangkan nasi. Tentu saya tak ingat lagi buah perbualan mereka. 

Tapi saya selalu ingat bagaimana Pirin selalu memberikan kaset terbarunya kepada sahabatnya (kadang ia bawakan dalam kantong kresek), dan itulah yang ikut saya nikmati ketika diputar Pak Gaek atau Mak Gaek dg tipe besar yg sudah dilengkapi seperangkat sound-system. Maka raun sabalik atau kaba akan bergema dan terdengar hingga ke jalan dan rumah tetangga.

Sayang, ketika pulang kampung dan menanyakan kaset2 itu, Mak Gaek sudah tidak menyimpannya. Saya menanggung penyesalan.

Cerita2 dan puisi yang saya tulis, berhutang pada dendang-dendang malam Pirin Asmara. Saya selalu menghidupkannya dan terkenang. Kadang kenangan itu datang begitu saja, dan rasanya ia sendiri yang  menghidupkan cerita dan semangat saya. Apakah ini semacam bukti betapa (seni) tradisi mampu mengisi setiap sisi kehidupan para pendukungnya? Mungkin begitu. 

Maka terima kasih dan hormat kita pantas dialamatkan kpd sosok pewaris tradisi itu. Anugerah Kebudayaan, diangkatnya sosok Pirin atau perabab lain dalam skripsi mahasiswa di Sumbar, penelitian dan dokumentasi ahli sastra lisan, atau didirikannya patung Perabab di Bukit Putuih Painan oleh Pemda Pessel, merupakan bagian daya-upaya penghormatan itu. Selainnya tentu rajin-rajinlah kita mengundang perabab dalam helat perkawinan, sunatan, festival atau temu kangen perantau dengan biaya jemputan yang selayak-layaknya.

Selamat untuk Pirin Asmara dan semua penerima Anugerah Kebudayaan Sumatera Barat 2020. Semoga yang sudah berpulang dilapangkan alamnya dan karyanya menjadi amal jahriyah; sehat walafiat, panjang umur dan diberkahi karya2 inspiratif bagi yang masih aktif.

Ondeh rabab, tolong sampaikan!”

(Raudal Tanjung Banua)

Related posts

Mandoa Bulan Baiak, Tradisi Menyambut Ramadhan di Pessel

Afrizal

Bolehkah Harato Pusako Tinggi Dimiliki dan Dijual oleh Laki-laki Bila Suatu Kaum Tidak Ada Lagi Perempuan?

Afrizal

Puasa dan Hari Raya

bandamaster